• SMA NEGERI 1 TAMBUN SELATAN
  • Maju Bersama Hebat Semua

Menjadi Remaja yang Cerdas dalam Berinternet

Tema: Literasi, Moderasi dan Indahnya Keberagaman

Subtema: Pemahaman dan peran serta siswa dalam menghadapi disrupsi teknologi seperti banjir informasi medsos, hoaks, dan lain-lain.

Judul : Menjadi Remaja yang Cerdas dalam Berinternet

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun ini memaksa kita untuk tetap di rumah. Tentunya pandemi ini memberikan banyak pengaruh untuk berbagai sektor di Indonesia, salah satunya, pendidikan. Siswa dan guru diminta untuk belajar daring (dalam jaringan) demi mencegah penyebaran Covid-19. Wacana sekolah tatap muka terus-menerus diundur akibat melonjaknya kasus Covid-19. Ditambah lagi dengan perpanjangan PPKM Level 4 untuk membatasi kegiatan kita di luar.

Hal itu menyebabkan siswa mempunyai banyak waktu di rumah. Siswa dihadapkan oleh aktivitas-aktivitas untuk mengisi waktu luang selama daring berlangsung. Contohnya, menggunakan media sosial. Menggunakan media sosial tentu hal lumrah bagi sebagian besar pelajar di Indonesia. Media sosial merupakan sarana yang paling efektif untuk mempertahankan tali silaturahmi dengan teman, sahabat, atau keluarga.

Ada berbagai macam media sosial yang sedang booming di kalangan anak muda seperti Instagram, TikTok, Twitter, dan WhatsApp. Aplikasi-aplikasi tersebut memiliki ciri khas tersendiri yang menyebabkan anak muda silih berganti menggunakannya.  Banyaknya aplikasi media sosial ini dapat memicu terjadinya FOMO. FOMO atau fear of missing out seringkali dikaitkan dengan kecanduan terhadap media sosial. Menurut artikel dari Alodokter, orang yang mengalami FOMO akan susah lepas dari gawainya, dan merasa gelisah jika tidak membuka media sosial karena takut bila tertinggal informasi atau tren terkini. Selain itu, FOMO juga bisa menyebabkan orang yang mengalaminya menelan informasi secara mentah.

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mendata kenaikan hoaks kesehatan secara signifikan selama masa pandemi. Ketua Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugroho mengatakan, di kala pandemi,  semua orang mudah menggunakan akses digital yang mengakibatkan hoaks meningkat pesat. Pada 2020 ada 2.298 hoaks, atau jumlahnya hampir dua kali lipat dibanding 2019. “Kali ini isu teratas bukan lagi politik namun kesehatan yang tercatat 37% atau sebanyak 800 lebih isu. Didominasi topik Covid-19 yang semakin meningkat dan berlanjut sampai 2021,” ujarnya saat dihubungi oleh tim Koran Sindo.

Kita kerap menemukan broadcast yang tersebar melalui grup WhatsApp. Broadcast adalah pesan yang dapat dikirimkan ke banyak grup dalam waktu yang bersamaan. Broadcast ini senantiasa diteruskan oleh orang-orang awam. Isi broadcast beragam, bisa berisi berita, informasi, link undian, dan lain-lain. Kandungan berita bisa berupa hoaks, informasi yang diterima tidak sepenuhnya benar, dan link undian palsu yang meminta data pribadi yang bisa membahayakan kita.

Kepala Staf Kepresidenan Indonesia Moeldoko, mengatakan bahwa dampak negatif dari informasi palsu ini sepenuhnya dialami oleh masyarakat sendiri. “Mungkin orang hanya iseng menulis, namun karena keterbatasan pemahaman terhadap sebuah tulisan dapat menghancurkan sebuah bangsa. Dampaknya sungguh luar biasa,” papar Moeldoko yang ditemui saat wawancara dengan Tirto.id.

Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Indonews, mengatakan bahwa hampir 80 persen anak-anak muda Indonesia melihat berita hoaks ini menjadi pesimis. Penyebabnya karena mereka seringkali mendapat berita hoaks. Dalam survei ini juga mengatakan bahwa, 40 persen subjek dalam sehari mendapatkan masing-masing satu berita hoaks. “(Masalah) ini kalau terjadi terus menerus, persatuan dan kesatuan bangsa menjadi lemah, berikutnya saling curiga. Jika ingin menjadi bangsa yang besar harus saling membesarkan bukan mengecilkan. Bukan saling menyerang, tapi saling membantu,” jelasnya.

Sebagai remaja, saya dapat membenarkan pernyataan itu. Apabila generasi muda terus dihadapkan oleh berita hoaks, pemahaman terhadap berita yang akurat akan berkurang, dan mereka akan cenderung malas untuk melakukan pengecekan berita yang didapat. Selain itu, kondisi psikis remaja juga bisa terganggu, seperti terjadinya kegelisahan berlebih, dan ketakutan terhadap informasi yang salah. Menurut pengamatan saya, hoaks mengenai vaksin Covid-19 terus bermunculan. Hal ini menyebabkan orang awam tidak mau melakukan vaksin. Padahal, vaksin ini penting untuk menstimulasi kekebalan spesifik dalam tubuh untuk melawan Covid-19.

Lantas apa yang membuat orang-orang menyebarkan berita hoaks? Siapa saja yang memungkinkan untuk menyebarluaskan berita hoaks? 

Dilansir dari wawancara dengan Koran Sindo, pakar komunikasi kesehatan dari Universitas Padjadjaran Bandung Jenny Ratna Suminar mengatakan, orang-orang cenderung mudah percaya dengan informasi kesehatan, terutama para generasi baby boomers atau mereka yang saat ini sudah berusia di atas 50 tahun. Jenny menambahkan bahwa pada usia tersebut, perhatian terhadap informasi kesehatan memang mulai tinggi seiring menurunnya kekuatan tubuh.

Maksud orang yang menyebarkan hoaks bisa jadi bukan untuk menjerumuskan ke hal buruk.  Terkadang, mereka ingin berbagi informasi yang dikiranya bermanfaat kepada orang-orang terdekat. “Nah di sini pembasmi hoaks bisa mengambil peran memeriksa. Dia berinisiatif mengecek melalui Google, atau bertanya langsung kepada sumber awal dari informasi tersebut,” paparnya.

Jenny pernah melakukan riset bertajuk Becoming a Hoax Buster in WhatsApp Groups as An Effort to Limit the Dissemination of Misleading Health Information (Menjadi Pembasmi Hoaks di Grup WhatsApp sebagai Upaya Membatasi Penyebaran Informasi Kesehatan yang Menyesatkan). Dari hasil penelitiannya, dia menemukan beberapa orang yang berperan sebagai pembasmi hoaks. Ketika sebuah info benar, pembasmi hoaks akan ikut menyebarkan lagi. “Tapi kalau salah, dia akan kirim pesan lewat japri (jaringan pribadi) ke orang yang sebar info tersebut bahwa itu hoaks. Ada juga yang ngomong langsung ke grup,” lanjutnya.

Menurut Jenny, pembasmi hoaks adalah peran yang amat langka di masyarakat. Mereka melakukan itu karena memiliki keberanian dan juga pengetahuan yang cukup tentang digital dan kesehatan. Peran pembasmi hoaks dianggap efektif dalam membatasi hoaks kesehatan, terutama di grup WhatsApp. Jenny memperkirakan hoaks kesehatan akan terus bergulir karena kekhawatiran orang terkait kesehatan semakin naik di masa pandemi Covid-19 ini. Karena itu, kehadiran pembasmi hoaks di grup-grup WhatsApp diakuinya akan selalu dibutuhkan.

Memang sulit untuk memutus rantai penyebaran berita hoaks, namun hal itu bisa dimulai dari diri sendiri. Menurut informasi dari Kominfo, ada tiga cara untuk mengatasi hoaks. Pertama, hati-hati dengan judul provokatif. Berita hoaks biasanya ditulis dengan judul provokatif. Isinya bisa mengambil sedikit informasi dalam berita asli, dan dapat dilebihkan maupun dikurangkan sesuai kemauan penulis untuk menghasilkan asumsi yang berkembang di masyarakat. Kedua, cermati alamat situs. Biasanya banyak broadcast yang mencantumkan link atau website. Cermatilah alamat situsnya pastikan berasal dari portal berita terpercaya, dan jika diperoleh dari blog, maka patut untuk diragukan. Ketiga, periksa fakta. Jangan hanya terpaku oleh satu sumber, cek portal berita terpercaya yang lain.

Akhir-akhir ini, saya lihat mulai banyak remaja yang sadar akan eksistensi berita hoaks. Tentunya hal itu merupakan kabar yang menggembirakan. Mereka akan mengunggah post (unggahan) dari sumber terpercaya ke Instagram Story apabila sebelumnya telah ada kesalahpahaman atau hoaks yang tersebar di masyarakat.

Remaja diharapkan dapat bijak dalam berinternet di masa pandemi. Dikutip dari laman Tribunnews.com ada beberapa tips berinternet secara sehat. Tips-tips tersebut diantaranya adalah:

  1. Hindari menatap layar komputer terlalu lama, untuk mencegah terjadinya kejenuhan dan kelelahan, dan dampak fisik lainnya. Keharusan untuk belajar daring mendorong siswa untuk menatap layar gawai maupun laptop untuk waktu yang lama. Rehatlah sejenak di halaman rumah seperti melihat-lihat tanaman hijau atau menyiram tanaman.
  2. Hanya membagikan informasi umum saja di media sosial.
    Data pribadi, seperti nomor HP jangan dibagikan di media sosial, untuk mencegah terjadinya kebocoran data. Jangan percaya pada internet untuk menyimpan data yang penting.
  3. Gunakan media sosial secara cerdas.
    Pengguna aktif media sosial kerap mengomentari unggahan yang terkadang dapat menyinggung hati orang yang mengunggah. Pikirkanlah dampak yang akan terjadi sebelum mengunggah, mengomentari sesuatu, atau menyuarakan pendapat.
  4. Gunakan kata sandi yang berbeda di tiap akun media sosial.
    Disarankan untuk menggunakan kata sandi yang kuat, disertai kombinasi huruf besar, kecil, dan tanda baca.

Sebagai siswa Generasi Z dan lahir di era digital, masa di mana informasi dapat dengan mudah disampaikan, kita harus bisa mencermati dan menyaring informasi yang kita peroleh. Jangan sampai termakan oleh hoaks. Alih-alih menyebarkan informasi, melainkan menyebarkan fitnah. Peribahasa “Mulutmu harimaumu” seperti sudah terlewat zaman digantikan oleh “Jempolmu harimaumu”. Jari-jari kita seperti penentu kepribadian kita dalam era digital ini. Oleh karena itu, gunakan internet sebaik mungkin agar memberi dampak positif bagi kita semua.

Penulis : Naila Selvira Budiana - XI MIPA 4

 

Tulisan Lainnya
Para Pejuang Ujungan Bekasi

Budaya merupakan warisan yang diturunkan oleh para nenek moyang kita. Warisan yang wujudnya bukanlah sebuah benda, melainkan sebuah seni untuk kita pelajari. Di era globalisasi ini buda

18/08/2021 11:25 WIB - TIM ICT smantas
DIBUKA PPDB SMAN 1 Terbuka Tambun Selatan 2021

PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU SMA TERBUKAINDUK SMAN 1 TAMBUN SELATAN KABAR GEMBIRA !!!ANDA BELUM SEKOLAH.. ANDA PUTUS Sekolah.. Atau ANDA SUDAH Bekerja..Bila ANDA berumur kurang dari 21

15/07/2021 19:09 WIB - TIM ICT smantas
Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2 dan Proses Daftar Ulang

Hasil Seleksi Tahap 2 PPDB SMAN 1 Tambun Selatan,- Jalur ZONASI dapat dilihat di link : PPDB JABAR 2021  atau dilink HASIL SELEKSI SMAN 1 TAMBUN SELATAN, Hari Jumat,

09/07/2021 08:17 WIB - TIM ICT smantas
Undangan Uji Kompetensi PPDB Jalur Prestasi Kejuaraan

   

15/06/2021 12:17 WIB - TIM ICT smantas
Jadwal dan Mekanisme PPDB JABAR 2021

PPDB DISDIK JABAR 2021 SMA/SMK Bahan sosialisasi mengenai:1. Syarat PPDB dan pemberkasannya2. Mekanisme pembagian akun PPDB 3. Input nilai rapor dan rangking4. Input berkas PPDB5. Mekan

25/05/2021 14:59 WIB - TIM ICT smantas